****
“Sola” Solahudin kemudian semakin jauh terseret ke wilayah akademis, yang batasnya memang semakin tipis dengan jurnalisme — kerja lapangan keduanya identik. Ia hanya perlu mempertajam pemahaman dan wawasan dengan bantuan aneka perangkat teori ilmu-ilmu sosial seperti yang lazim diterapkan oleh para periset sosial profesional.
Ia makin memantapkan diri sebagai otoritas yang disegani di area studi yang memang menjadi gairah terbesarnya sejak usia muda — meski ia tak pernah menuntaskan kuliah di universitas mana pun. Tapi ia bukan jenis yang gampang tergoda oleh popularitas dan hasrat menonjolkan diri. Publik luas jarang yang mengetahui otoritas akademisnya ini.
Hanya rekan sesama peneliti atau aktivis yang meminati isu serupa (atau juga kalangan aparat keamanan) yang mengerti luas dan dalamnya pemahamannya atas isu ini. Jika mereka tak mengerti terhadap mata rantai yang hilang dalam suatu peristiwa atau gejala, misalnya, mereka tahu Solah adalah sumber tepercaya yang harus dihubungi.
Meskipun ia tak selalu mampu memberi jawaban langsung, tapi penyajiannya tentang latar-belakang yang luas atas peristiwa yang ditanyakan, membuat si penanya mampu menarik kesimpulan yang kurang-lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.










