Gibran sedang ingin menyesatkan sebuah perilaku anak muda, generasi millenial, bahwa anak muda itu cenderung bebas, terbuka dan apa adanya, namun dilakukan dengan cara – cara yang melanggar etika. Misalkan bagaimana memperlakukan lawan debat atau lawan dialog, Gibran seolah dengan gayanya yang songong dan semau gue, mendiskreditkan lawan tidak dengan substansi perdebatan, tapi lebih pada persoalan personal lawan debat. Gibran ingin menang, ingin menaklukkan lawan dengan cara liar, menjatuhkan dan mempermalukan. Sebuah gaya dan perilaku anak muda yang jauh dari standar norma dan etika apalagi di negara yang berpaham Pancasila.
Bagi Gibran, salah ucap, salah istilah dan salah salah yang lain itu adalah hal biasa, yang penting nanti bisa diralat, bisa diperbaiki dan bisa minta maaf. Gibran salah menempatkan diri, Gibran tak sadar atau memang dengan sengaja bahwa panggung besar debat dia manfaatkan untuk menebar sebuah gagasan dan gaya yang dia yakini sebagai “kebenaran”, meski hari ini secara standar etika belum bisa diterima. Gibran memilih pandangan bahwa sebuah kesalahan kalau dilakukan secara berulang ulang ulang akan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Kita hormati pilihan Gibran dengan gaya seperti itu, tapi masyarakat juga harus mengantisipasi pengaruh gaya seperti itu. Saya yakin tak ada satupun orang tua yang menginginkan anaknya berani sama orang tua, saya yakin tak ada orang tua yang menginginkan anaknya bergaya semau gue dengan sikap sikapnya.








