Sosialisme dalam Sepakbola: Dari Bill Shankly hingga Sir Alex Ferguson

Di pedesaan, permainan ini dimulai ketika tanda sore hari sudah muncul dan berakhir ketika saut-sautan suara azan mahgrib dan lengkingan suara ibu memanggil. Permainan yang dinikmati di bawah kehangatan sinar matahari sore hari dengan berbagai gelak tawa kesenangan dan kebahagiaan. Dengan pemenang pertandingan ditentukan berdasar siapa yang terakhir mencetak gol.

Tak ada emosi kemarahan yang berlebihan. Semua senang dan saling berbagi kebahagiaan. Mungkin memang itu tujuan utama diciptakannya permainan sepak bola. Untuk kebahagiaan.

Permainan ini memang didasarkan pada kerja sama dan kebersamaan. Semua yang bermain merasakan dampak permainan yang mereka mainkan. Tidak hanya satu atau dua individu. Kalau boleh dibilang permainan ini merupakan permainan sosialis.

Pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly pernah berujar, “Sosialisme yang saya percayai, adalah setiap orang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang sama dan setiap orang saling berbagi apa yang didapatkannya. Itulah bagaimana saya melihat sepak bola, serta bagaimana saya melihat hidup.”

Bill Shankly hanya satu dari beberapa nama pelatih legendaris lain yang berideologi sosialisme ataupun memiliki hubungan dengan Partai Buruh. Masih ada nama-nama legendaris lainnya seperti Sir Matt Busby, Brian Clough hingga satu pelatih yang merasakan bagaimana sepak bola modern bekerja Sir Alex Ferguson.

Boleh dibilang pelatih-pelatih tersebut menangani suatu klub dalam kurun waktu yang cukup panjang. Tak seperti sepak bola modern saat ini yang umur kepelatihan seorang pelatih dalam suatu klub hanya berumur 2–3 tahun saja, bahkan banyak pelatih yang belum genap setahun menangani klub sudah diberhentikan.

Sepak bola, buruh, dan ide sosialisme memang menjadi suatu hal yang saling terkait. Permainan ini memang mengharuskan untuk berkelompok dalam memainkannya. Mengurangi rasa ego dan individualisme, saling berbagi. Sebuah ide dasar dari sosialisme dan bagaimana kehidupan para buruh di Inggris dulu dalam menjalani penderitaan hidupnya dan menuntut berbagai hak mereka. Tidak hanya di Inggris, kehidupan buruh di seluruh dunia tak bisa dilepaskan dari sebuah kata penderitaan.

Begitupun latar belakang kehidupan para pelatih legendaris yang tersebut di atas. Para pelatih legendaris tersebut lahir dan bertumbuh di lingkungan kehidupan buruh. Tentunya dari orang tua yang buruh pula.

Sir Matt Busby lahir di lingkungan pedesaan yang terdapat pertambangan di Orbiston, North Lanarkshir, Skotlandia. Pada umur 16 tahun, Busby sudah mulai bekerja sebagai buruh di tambang tersebut. Begitu pun Bill Shankly, ia lahir di sebuah lingkungan tambang pula, Ayrshire Villageof Glenbuck.

Shankly sempat bekerja sebagai buruh tambang selama dua tahun sebelum kesempatan menjadi pemain sepak bola terbuka. Brian Clough, pelatih yang mengantarkan Nottingham Forest meraih dua gelar Liga Champions, lahir di Middlesbrough, suatu daerah yang menjadi pusat produksi baja dan menjadi pusat perkumpulan para buruh. Sedangkan Sir Alex Ferguson lahir di Govan, sebuah daerah pelabuhan dengan galangan kapal yang banyak membutuhkan buruh angkut.

Keempat pelatih legendaris ini pun memiliki hubungan yang cukup erat dengan ide sosialsime, ataupun memiliki dukungan untuk Partai Buruh di Inggris. Walaupun tak semuanya cukup vokal dalam menyatakan ide mereka atau keberpihakan politik mereka.

Busby bukan termasuk sosok yang cukup vokal dalam mendukung pandangan politiknya. Namun, Busby membentuk klub yang ia tangani menggunakan ide sosialisme. Dari The Guardian, dalam bukunya “Standing On The Sholders of Giants : A Cultural Analysis of Manchester United” Søren Frank menulis “Dia sukses menciptakan sebuah atmosfer kekeluargaan dan egalitarian, sebuah budaya ‘satu untuk semua dan semua untuk satu’ di Manchester United, dimana tidak ada yang lebih besar dari klub, dan dimana para pemain dianggap sebagai manusia.”

Lain halnya dengan Busby, Shankly termasuk sosok yang vokal terhadap ideologi yang ia anut. Shankly memandang ideologinya ini bukan sebagai sebuah dogma politik, tetapi lebih menjadi sebuah keyakinan hidupnya, seperti sebuah petikan pernyataan di awal tulisan ini.

Pengaruh Shankly dalam dunia politik Inggris bahkan cukup kuat. Dalam sebuah pidato kemenangannya menjadi pemimpin Partai Buruh pada 2015, Jeremy Corbyn beberapa kali menyebut nama Bill Shankly serta mengutip pernyataan Bill Shankly mengenai keyakinan sosialismenya.

Shankly sukses menanamkan benih kejayaan di Liverpool. Memulai dari divisi dua Liga Inggris, hingga menjadi raja di kompetisi eropa menjadi sebuah bukti bagaimana pandangan sosialisme yang ia yakini berhasil ia terapkan dalam sepak bola. Boleh jadi, paham “You’ll Never Walk Alone” merupakan ejawantah paling sukses dalam ide sosialisme yang begitu mengakar di Liverpool.

Clough serupa dengan Shankly yang cukup vokal terhadap pandangan politiknya. Clough menggunakan keyakinannya terhadap ide kolektivisme untuk membawa tim yang ia tangani dari keadaan medioker menjadi yang disegani di seantero Inggris bahkan Eropa.

Seperti Busby, dia menekankan pentingnya kerja sama dalam tim, kekeluargaan dan menekan individualisme serta ego. Clough mungkin merupakan kombinasi dari Busby dan Shankly. Ia dapat membentuk suasana yang sangat kekeluargaan serta menunjukkan karismanya kepada publik.

Keberpihakan Clough terhadap buruh sangat jelas ia tunjukkan. Dalam sebuah pertandingan oleh Derby County, salah satu klub divisi championship Inggris, ia pernah memberikan tiket gratis terhadap buruh tambang di sekitar lingkungan tinggalnya. Ia pun pernah ikut berdemonstrasi bersama para buruh tambang menolak penutupan beberapa tambang pada tahun 1980. Sebuah kebijakan yang dikeluarkan Margareth Tatcher, perdana menteri Inggris kala itu.

Menurutnya kebijakan itu akan menyengsarakan banyak buruh dan meningkatkan pengangguran. Selain itu, Clough merupakan pimpinan dari Anti-Nazi League, sebuah organisasi yang diinisiasi Partai Buruh sebagai bentuk perlawanan dari kebijakan partai sayap kanan di Inggris. Clough bahkan pernah ditawari untuk menjadi calon anggota legislatif dari Partai Buruh dua kali. Namun, ia menolak dan tetap menjadi pelatih sepak bola.

Pun dengan Sir Alex Ferguson, ia memiliki kedekatan dengan Partai Buruh. Dalam beberapa kampanye Partai Buruh, Ferguson sering melontarkan dukungannya. Bahkan kedekatannya dengan salah satu petinggi Partai Buruh, Tony Blair menjadi suatu bukti nyata.

Layaknya Clough, Ferguson pun sempat ditawari untuk menjadi calon anggota legislatif dari Partai Buruh, tetapi ia pun menolak. Selain itu, Ferguson menjadi salah satu penyandang dana bagi partai tersebut. Di Manchester United, Ferguson merupakan anak ideologis dari Matt Busby. Slogan “Tidak ada yang lebih besar dari klub” benar-benar ia terapkan. Ferguson tak pernah ragu menjual nama-nama besar apabila merasa lebih besar dari klub.

Tercatat, ia tak ragu untuk melepas David Beckham, Ruud van Nistelrooy, hingga Cristiano Ronaldo ketika mereka tengah di puncak performa. Semua itu dilakukan sebagai perwujudan ideologi yang ia pegang teguh.

**

Sepak bola memang suatu hal yang sangat kompleks. Tak hanya bergulat adu taktik dan menendang bola selama 90 menit di atas lapangan. Di luar lapangan, permainan menjadi suatu alat untuk mencapai berbagai tujuan, termasuk ideologi dan politik.

Namun, ide dasar bahwa sepak bola merupakan permainan kolektif tak akan pernah bisa diganggu gugat. Sebuah permainan sosialis, dengan semua legenda dalam dunia sepak bola yang memiliki ide ini sebagai buktinya. (*)

Buruh sepak bola di seluruh dunia, bersatulah! (Achmad/Bahar)

Sumner: https://medium.com/@nirbobol.co

Disclaimer: Isi di luar tanggungjawab redsksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: