Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Kontroversi untuk menjadikan Suharto sebagai pahlawan nasional muncul setiap mendekati bulan November. Ini karena 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Saya tidak tahu apa gunanya menobatkan orang menjadi pahlawan. Negara ini sudah kayak agama saja. Gereja Katolik memberikan gelar santa/santo kepada orang-orang yang dianggap kudus. Tentu, dengan penyelidikan yang ketat, termasuk pembuktian ada dua mukjizat terjadi karena berdoa kepada orang yang dinobatkan sebagai santa/santo itu.
Negara ini rupanya ingin bertindak yang sama seperti Gereja Katolik memberikan kanonisasi santa/santo itu. Hanya saja ada beda yang besar. Kalau pahlawan, itu tergantung dari politik negara tersebut. Siapa yang menang, dia yang berhak menentukan siapa yang jadi pahlawan.
Dalam pemerintahan neo-Orba, siapa yang pantas jadi pahlawan? Ya jelas rejim Orba-lah. Tidak sulit untuk memahaminya.
Saya paham itu. Juga tidak ada keberatan saya. Kita katanya punya sistem demokrasi. Jika sistem ini membuat seorang penjahat menjadi presiden, ya apa boleh buat kan? Seperti Hasan Nasbi yang tidak segan menjilat: asal yang dijilat itu menang!










