Naskah tersebut turun-temurun dari trah Kalfangare, kemudian dirawat dan dijaga sedemikian rupa sampai di Ishak Naser, orang yang dituakan di marga mereka.
“Ini juga dikombinasi dengan marga yang lain di Soasio, Gamtufkange, hingga sampai ke Toloa, karena ada kaitan dengan trah dari Fabanyo,” paparnya.
Sultan bilang, naskah ini adalah langkah mengungkapkan kembali apa yang selama ini tersimpan, dan seharusnya diketahui oleh publik.
“Ini publik harus tahu. Karena sangat besar faedahnya apabila kita mengetahui peninggalan-peninggalan masa lalu. Yang kita tahu peninggalan Masehi saja, dan pada akhirnya kita terjatuh dari peninggalan dari masa lalu, padahal itu identitas kita,” ujarnya.
“Contohnya, duhulu orang tidak pernah mengenal hari Minggu. Dan orang tahu adalah hari Ahad. Sementara hari Kamis, orang tahu Hamis. Rabu itu Arba. Dan ini hilang. Sekarang peninggalan-peninggalan tersebut kita hidupkan kembali,” pungkasnya. (Mansyur Armain)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News









