Foto: iStock |
Seperti Apa Gejala Coronasomnia?
Dokter yang khusus menangani masalah gangguan tidur Dr. Abhinav Singh menjelaskan gejala seseorang mengalami coronasomnia. Ini beberapa di antaranya:
– Sulit tertidur atau tetap tidur nyenyak. Dalam beberapa jam sekali bisa terbangun dan tidak dapat kembali tidur.
– Stres yang meningkat.
– Peningkatan gejala kecemasan dan depresi.
– Jadwal tidur sering terlambat dari kebiasaan sebelumnya.
– Gejala kekurangan tidur: lebih banyak tidur di siang hari, sulit konsentrasi dan fokus, mood jelek seharian.
Ilustrasi insomnia. Foto: ilustrasi/thinkstock |
Penyebab Coronasomnia
Dr. Abhinav Singh menyebut ada beberapa penyebab coronasomnia paling umum. Penyebab paling utama karena stres akibat keadaan yang serba tak menentu.
Rutinitas harian yang tak lagi sama dari tahun-tahun sebelumnya juga disebut jadi pemicu timbulnya coronasomnia. Seperti diketahui, banyak negara memberlakukan lockdown, dan di Indonesia sendiri dikenal dengan istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.
Pembatasan tersebut membuat orang tidak bisa lagi menjalankan aktivitas seperti biasanya. Misalnya melakukan hobi, bersosialisasi di sebuah acara, kumpul bareng teman, makan di restoran atau sekadar jalan-jalan.
Kehilangan aktivitas yang disukai membuat seseorang merasa kehidupan sosialnya terisolasi dan berdampak pada kesehatan mental. Selain itu berbagai kegiatan yang setiap harinya dilakukan sebelum pandemi sedikit banyak membantu menyeimbangkan ritme sirkadian, atau siklus biologis tubuh kapan harus bangun-tidur.


Foto: iStock
Ilustrasi insomnia. Foto: ilustrasi/thinkstock






