Perempuan kemudian belajar mengawasi dirinya sendiri. Ia merawat tubuh, mengatur penampilan, menjaga bentuk badan, memilih busana, bahkan mengukur harga dirinya melalui cermin yang sesungguhnya telah dibuat oleh masyarakat.
Inilah yang oleh Foucault dapat dibaca sebagai self-surveillance: pengawasan yang pada akhirnya tidak lagi membutuhkan pengawas. Kekuasaan telah masuk ke dalam kesadaran.
Ketika Tubuh Masuk ke Panggung Kekuasaan
Di sinilah metafora “tante cantik” menjadi lebih serius ketika ditempatkan dalam panggung politik.
Sebab politik tidak hanya berbicara tentang program, anggaran, kebijakan, dan kekuasaan formal. Politik juga berbicara tentang tubuh: siapa yang tampil, siapa yang dilihat, siapa yang dipuji, siapa yang disenyapkan, dan siapa yang tubuhnya dijadikan simbol keberhasilan.
Perempuan dalam politik acap kali menghadapi paradoks yang ganjil. Ia dituntut tampil kuat, tetapi tidak boleh kehilangan kelembutan. Dituntut cerdas, tetapi tubuh dan penampilannya tetap menjadi bahan penilaian. Dituntut memimpin, tetapi pada saat yang sama terus berhadapan dengan tatapan yang menilai tubuhnya.
Di titik ini, kritik Gayatri Chakravorty Spivak terhadap cara tertentu memahami feminisme menjadi relevan. Pembebasan perempuan tidak boleh berhenti pada pengakuan bahwa perempuan telah masuk ke ruang kekuasaan. Sebab masuk ke dalam kekuasaan belum tentu berarti terbebas dari struktur kekuasaan itu sendiri.









