Perempuan bisa saja duduk di kursi kekuasaan, tetapi tubuhnya tetap diperlakukan sebagai objek. Bahkan lebih ironis, tubuh perempuan dapat digunakan sebagai ornamen legitimasi kekuasaan: cantik sebagai citra, perempuan sebagai pajangan, dan kekuasaan sebagai panggung.
Karena itu, persoalannya bukan apakah seorang gubernur perempuan cantik atau tidak. Itu terlalu dangkal.
Persoalan yang jauh lebih penting adalah: apa yang dilakukan kekuasaan terhadap kehidupan manusia yang berada di bawahnya?
Sebab politik tubuh pada akhirnya tidak berhenti pada tubuh perempuan. Ia menjalar ke tubuh rakyat.
Tubuh buruh yang bekerja dengan upah rendah. Tubuh petani yang berhadapan dengan kerusakan lingkungan. Tubuh nelayan yang kehilangan ruang hidup. Tubuh ASN yang dibebani pekerjaan dan ketidakpastian. Tubuh PPPK yang menunggu kepastian penghasilan. Tubuh warga miskin yang harus berdiri dalam antrean bantuan.
Di situlah politik tubuh menemukan maknanya yang sesungguhnya.
Dari Tubuh Gubernur ke Tubuh Birokrasi
Foucault memperkenalkan gagasan biopolitik untuk membaca bagaimana kekuasaan modern tidak semata-mata memerintah melalui larangan dan hukuman, tetapi melalui pengelolaan kehidupan: kesehatan, populasi, ekonomi, produktivitas, keamanan, dan tubuh manusia.









