Percakapan itu ditutup dengan pelukan singkat dan tepukan di bahu. Dengan senyum hambar dan airmata yang hampir menetes. Dalam diam, aku dan Raka tahu, kami punya tempat istimewa di hati masing-masing.
EPILOG
Februari, 2021
“Ka, kita udah ga bisa gini-gini terus. Kayaknya, kita lebih baik ga usah ketemu lagi deh, Ka..” Aku dan Raka sedang duduk berhadap-hadapan. Sepiring mie goreng kesukaanku nampak begitu lezat, sayang aku sama sekali tak berselera menyantapnya.
“Ka, kamu dengerin aku kan?” tanyaku lagi setelah Raka hanya diam menyantap nasi goreng sosis kesukaannya. Kapan tepatnya? Dua bulan yang lalu sepertinya. Ketika aku -tanpa rencana- menyatakan segala nyamanku tentang Raka. Entah apa yang kupikirkan. Diluar dugaan, Raka diam tanpa menepis semua kataku, hari berikutnya bersikap seperti kekasihku. Untuk sejenak kala itu, aku merasa berharga olehnya.
“Ka…”
“Iya Na… aku juga lagi mikir. Bisa ga kamu tetap disini? Samaku?”
“hah? Kamu gila ya Ka? Ada Senja, Ka… Ini itu tempatnya Senja, bukan tempatku..”
“Tapi aku ga mau kehilangan kamu, Na…” Abu-abu. Raka memilih menjadi abu-abu.
“Kita ga usah ketemu lagi, Ka.. maaf, aku udah jadi jahat di hidup kamu… maaf, aku nyakitin hati Senja sejauh ini. Kamu baik-baik sama dia ya,” (*)











