Tergerus Zaman, Kerajinan Suram Tam Kota Tual di Ambang Kepunahan

oleh -176 Dilihat
Regenerasi perajin di sentra gerabah Tam nyaris terhenti. Anak-anak muda lebih memilih pekerjaan di sektor pemerintahan yang dianggap menawarkan penghasilan dan masa depan lebih menjanjikan dibandingkan menjadi perajin gerabah.

“Itu mungkin salah satu faktor yang membuat kurangnya peminat perajin muda terhadap pembuatan gerabah. Prosesnya panjang dan makan waktu lama, juga masih manual atau tradisional,” jelasnya.

Harga Murah, Wisatawan Asing Justru Jadi Pembeli

Persoalan regenerasi bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi perajin Suram Tam. Nilai ekonomi produk yang masih relatif rendah juga menjadi persoalan tersendiri.

Untuk sebuah pot bunga berukuran kecil, misalnya, perajin menjualnya sekitar Rp25 ribu. Gerabah ukuran sedang yang biasa digunakan untuk merebus obat herbal dihargai sekitar Rp50 ribu.

Sementara guci berukuran lebih besar dibanderol sekitar Rp200 ribu.

Harga tersebut dinilai belum sebanding dengan panjangnya proses produksi yang seluruhnya masih dilakukan secara tradisional.

Baca Juga  Rektor Unpatti Lantik Halidah Rahawarin sebagai Wakil Dekan Fakultas Kedokteran

Ironisnya, meski kurang diminati masyarakat lokal, Suram justru memiliki pasar hingga mancanegara.

Siti mengatakan wisatawan asing menjadi salah satu pembeli yang datang langsung ke Desa Tam. Beberapa di antaranya berasal dari Prancis, Belanda dan negara-negara Eropa lainnya.

“Peminat yang datang langsung membeli di desa kebanyakan wisatawan mancanegara dari Perancis, Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya,” ujarnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Suram memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi yang cukup besar apabila dikembangkan secara serius.

No More Posts Available.

No more pages to load.