Teror Tahun 1975 di Belanda, Menagih Janji Maluku Selatan yang Merdeka

oleh -61 views

Mereka tidak menyangka bahwa mereka harus menjadi tawanan serangan teror, ketika kereta dihentikan paksa oleh tujuh orang Maluku bersenjata di dekat desa Beilen. Masinis kereta, Hans Braam dibunuh di tempat.

Demi membebaskan para tawanan, polisi, tentara, dan mobil tahan peluru mengepung kereta. Pada hari pertama dari pembajakan itu, tiga perempuan dan satu anak kecil dibebaskan, dengan membawa tuntutan.

Beberapa dari tuntutan itu seperti dikirimkan pesawat untuk digunakan menuju tempat yang dirahasiakan, pemerintah dituntut untuk memublikasikan keluhan-keluhan orang Maluku di Belanda, selesaikan masalah ketidakadilan terhadap orang Maluku, memberikan panggung kepada pemimpin komunitas Maluku Selatan, hingga mengadakan pertemuan antara pihak Indonesia, Belanda, dan PBB, bersama Republik Maluku Selatan (RMS).

Kamp Vught, tempat keluarga KNIL Maluku yang pindah ke Belanda. Tempat ini sebelumnya adalah kamp konsentrasi yang digunakan selama Perang Dunia II.
Kamp Vught, tempat keluarga KNIL Maluku yang pindah ke Belanda. Tempat ini sebelumnya adalah kamp konsentrasi yang digunakan selama Perang Dunia II. (Rob Bogaerts/Nationaal Archief)

Tak ada respons, pada hari ketiga para pembajak membunuh Leo Butler, tentara nasional muda. Kemudian Bert Bierling, seorang ekonom muda pada keesokan harinya di depan polisi, tentara, dan media.

Menteri Hukum Belanda, Andries van Agt memberikan respons, dikutip dari The Times edisi 3 Desember 1975:

Baca Juga  Pemkab Kepulauan Sula Perkuat Kinerja PTSP dan Percepat Izin Berusaha

“Mereka menuntut agar mereka diizinkan pergi dengan sandera. Kami tidak pernah menyerah pada tuntutan seperti itu, bahkan ketika teroris Jepang menahan Duta Besar Prancis tahun lalu, dan kami tidak akan menyerah sekarang. Lebih jauh lagi, sekarang orang-orang ini telah membunuh, kita tidak bisa membiarkan mereka meninggalkan Belanda sama sekali.