Namun, perubahan besar terjadi ketika Thulaihah akhirnya memeluk Islam pada 630 Masehi di hadapan Nabi Muhammad SAW. Keputusannya ini diikuti oleh banyak anggota sukunya, sehingga Bani Asad masuk ke dalam barisan umat Islam.
Sayangnya, setelah wafatnya Rasulullah SAW, keimanan Thulaihah mulai goyah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq, ia mengaku sebagai nabi dan memimpin gerakan murtad di antara kaumnya pada 631 Masehi.
Diceritakan dalam buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hassan, popularitas Thulaihah meningkat karena kabar bahwa dirinya kebal terhadap senjata.
Konon, ia pernah ditebas pedang namun tidak terluka, sehingga sebagian orang menganggapnya memiliki kekuatan gaib dan membelot dari pasukan Muslim untuk mengikutinya.
Ketika peristiwa Perang Buzakhah pecah di timur laut Madinah, Khalid bin Walid memimpin pasukan Islam untuk memerangi pasukan Thulaihah. Sebelum perang, dua sahabat Nabi, Ukasyah bin Mihshan dan Tsabit bin Aqram, dikirim sebagai mata-mata tetapi kemudian terbunuh oleh Thulaihah dan sekutunya, Salamah.
Dalam pertempuran besar itu, pasukan Thulaihah akhirnya tidak mampu menandingi kekuatan pasukan Islam. Khalid bin Walid berhasil mengalahkannya, dan Thulaihah pun melarikan diri ke wilayah Syam untuk menyelamatkan diri dari kejaran pasukan Muslim.









