Akibatnya, mobilisasi armada air terhenti beberapa kilometer sebelum lokasi. Para petugas bersama warga pun harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menembus medan pegunungan selama kurang lebih satu jam 20 menit sambil membawa perlengkapan pemadaman seadanya.
Setibanya di lokasi, tim gabungan langsung bergabung dengan warga setempat yang lebih dahulu berupaya mengendalikan dan melokalisasi kobaran api agar tidak meluas ke area perkebunan lainnya.
“Setibanya di lokasi, tim gabungan langsung bahu-membahu dengan warga lokal yang sudah lebih dulu berupaya melokalisasi kobaran api,” tuturnya.
Keterbatasan Air, Petugas Fokus Cegah Api Meluas
Selain kendala akses, keterbatasan sumber air di kawasan pegunungan turut menyulitkan proses pemadaman secara menyeluruh.
Dalam kondisi tersebut, petugas bersama masyarakat memfokuskan upaya pada pembersihan serasah dan daun-daun kering di sekitar perimeter kebakaran. Langkah ini dilakukan untuk memutus jalur penjalaran api sehingga kobaran tidak semakin meluas ke kawasan perkebunan warga.
Abdul Jalil menekankan pentingnya kolaborasi dan kesiapsiagaan seluruh elemen dalam menghadapi ancaman karhutla, terutama di wilayah terpencil dengan akses terbatas.
Ia mengatakan, seluruh personel gabungan bersama masyarakat masih berada di lokasi untuk melakukan penyisiran dan pemantauan guna memastikan titik-titik bara api benar-benar padam.










