Porostimur.com, Ambon – Dari Ambon hingga Belanda, suara diaspora Maluku menyatu. Mereka menegaskan bahwa Maluku hanya akan sejahtera bila sumber daya alam (SDA) dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan semata kepentingan investor.
Momentum ini ditandai dengan peluncuran White Paper bertajuk “Sumber Daya Alam dan Lingkungan Maluku Raya: Pengawasan Tambang dan Pengelolaan SDA Berkelanjutan” yang disusun oleh Moluccan Network bersama Institute for Maluku Studies (IMS).
Laporan itu merupakan hasil diskusi panjang dengan melibatkan 255 peserta dan 17 narasumber lintas generasi maupun profesi.
Maluku di Persimpangan Jalan
Nama-nama besar ikut memberi kontribusi pemikiran. Di antaranya Prof. Jan Sopaheluwakan, peneliti senior bencana lingkungan dari Universitas Indonesia; Prof. Alex Retraubun, akademisi Universitas Pattimura sekaligus mantan Wakil Menteri Perdagangan RI; hingga Dr. Jeff Malaihollo, mantan investment banker sektor tambang yang kini menjabat komisaris perusahaan tambang di London.
Tokoh-tokoh lokal juga tak kalah aktif. Elifas Tomix Maspaitella, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku; Vogel Faubun, aktivis sosial di Ambon; Rory Dompeipen, purna peneliti LIPI/BRIN; dan Saleh Wattiheluw, purna anggota DPRD Maluku, ikut menyuarakan keprihatinan mereka.









