Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Lama sekali saya tidak mendengarkan Tracy Chapman. Untuk saya, mendengarkan lagu-lagu Tracy sama dengan dengan membaca novel-novel pemenang Nobel sastra, Toni Morrison.
Lagu-lagu Tracy sangat peka dengan situasi yang dia hadapi dalam hidupnya. Lahir miskin sebagai seorang perempuan kulit hitam, ditinggal ayah sejak kecil, ia hanya dibesarkan oleh ibunya yang memberikannya ukulele pada usia 3 tahun. Dia mengalami semua kekerasan yang harus dialami oleh orang kulit hitam — dan perempuan. Dia beruntung mendapat beasiswa. Pendidikanlah yang mengangkatnya dari jerat kemiskinan.
Untungnya Tracy juga tumbuh di Public Library (Perspustakaan Umum). Salah satu kelebihan dari kota-kota di Amerika adalah setiap kota memiliki perpsutakaan umum yang berfungsi. Dia banyak membaca. Ini mempertajam kemampuannya untuk menyerap dan mengekspresikan pengalaman hidupnya.
Lagu “Fast Car” ini adalah sebuah balada. Liriknya sangat kuat mengekspresikan hidup sebagai perempuan kulit hitam Amerika. Fast Car — mobil balap — adalah sebuah metafor untuk keluar dari situasi mematikan yang dibikin oleh kemiskinan.




