Tracy Chapman

oleh -85 views

Namun lelaki yang diajaknya keluar dari kemiskinan ternyata tersedot kembali ke pusaran kemiskinan. Mimpi itu tetap mimpi.

Imajinasi Tracy Chapman sangat berbeda dengan imajinasi aktivis-aktivis heroik yang pernah saya kenal yang haus dengan heroisme. Para aktivis dengan mimpi kekiri-kirian, mengutip buku-buku kiri tanpa pernah membukanya, mempertontonkan romatisme heroik murahan dengan Castro atau Che Guevara sebagai idola.

Tracy sama sekali tidak heroik. Dengarkanlah lagunya “Talkin’ Bout A Revolution.” Sama sekali tidak ada kepalan tangan, teriakan berapi-api, atau bendera-bendera yang diam-diam perusahan-perusahan besar.

Tidak ada kutukan terhadap kapitalis di dalam lagu-lagu Tracy. Tidak ada jargon-jargon sosialis. Yang ada hanya orang antre di depan kantor jaminan sosial menunggu kupon makanan. Atau, pegawai rendahan yang menunggu naik pangkat (promosi). Atau, mungkin pegawai honorer yang menunggu surat pengangkatan yang tak kunjung tiba.

Atau dengarkanlah “All That You Have Is Your Soul,” semua yang kamu punya cuma sanubarimu. Ini adalah nasehat mamanya. Jangan jual sanubarinya. Laparlah hanya terhadap keadilan. Laparlah hanya terhadap dunia kebenaran.

Baca Juga  Supercomputer Opta Jagokan PSG Juara Liga Champions, Arsenal Tetap Punya Modal Kuat

Di malam yang dikoyak pandemi ini, saya kira Tracy Chapman mengingatkan saya kembali akan keadilan itu. Bukan keadilan murahan dengan sumbangan-sumbangan yang tidak jelas juntrungan.