Ia mulai berpijak. Langkah terasa berat. Entah apakah itu perasaan atau memang benar. Ditengoknya seberang ranjang. Seseorang sudah menunggu. Tidak ada kata yang menyapa, hanya sorot tajam.
Dengan langkah tanpa berpikir ia menghampiri, hingga jaraknya cukup untuk melihat bayangan di mata lainnya. Orang itu hanya memandang tajam, lama, tanpa kata, tanpa kasih, hingga sebuah senyum sinis terlampir, berucap, “Menjijikan.” Ia bergeming. Raut orang itu mulai berkerut, mendengus dan tertawa, “Menjijikkan!” Ia tidak melawan.
Sepasang sorot mata itu menghina seluruh tubuhnya. Namun tidak ada yang salah dari sorot itu. Tubuhnya memang menjijikkan. Ia memang menjijikkan. Seluruh lemak yang berkumpul di balik kulitnya, seluruh gelambir di perut dan tangan dan leher, seluruh makanan yang telah ia makan dan masukkan ke dalam perut hingga wujudnya menjadi seperti ini. Ia memang menjijikkan.
“Benar-benar menjijikkan,” seru orang itu, “jijik…” bersama satu per satu air mengalir hangat dari pelupuk mata. Suara semakin lirih, hingga akhirnya tak ada. Hanya ada tarikan napas, suara pelan gesekan menghapus air mata, dan dirinya menatap orang dalam cermin yang sedang menghapus air mata juga. “Maaf…”
Tubuh ini tidak menjijikkan.









