Akgun mengatakan serangan hukum terhadap majalah tersebut, benteng oposisi satire yang didirikan pada tahun 1991, “sangat mengejutkan tetapi tidak terlalu mengejutkan.”
“Ini adalah tindakan pemusnahan. Para menteri terlibat dalam seluruh bisnis, kartun itu terdistorsi,” katanya.
“Meniru Charlie Hebdo sangat disengaja dan sangat mengkhawatirkan,” katanya tentang majalah satire Prancis yang kantornya diserbu oleh orang-orang Muslim bersenjata pada tahun 2015.
Serangan di kantor majalah Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang kala itu terjadi setelah majalah tersebut menerbitkan karikatur yang mengolok-olok Nabi Muhammad SAW.
“Ada permainan di sini, seolah-olah kita mengulang sesuatu yang serupa. Ini adalah provokasi dan serangan yang sangat sistematis,” kata Akgun.
Menteri Kehakiman Yilmaz Tunc mengatakan penyelidikan telah dibuka atas dasar “penghinaan publik terhadap nilai-nilai agama.”
“Tidak menghormati keyakinan kita tidak pernah dapat diterima,” tulisnya di X.
“Tidak ada kebebasan yang memberikan hak untuk menjadikan nilai-nilai sakral suatu keyakinan sebagai bahan lelucon yang buruk. Karikatur atau bentuk representasi visual apa pun dari Nabi kita tidak hanya merusak nilai-nilai agama kita tetapi juga merusak kedamaian masyarakat,” paparnya.










