Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Konon, di film-film koboi Hollywood, pahlawan selalu masuk kota dengan menunggang kuda sambil menggigit cerutu. Ia menembak lebih cepat daripada bayangannya sendiri. Musuh tumbang. Debu beterbangan. Musik kemenangan diputar. Lalu layar ditutup dengan tulisan: The End.
Masalahnya, geopolitik bukan film koboi. Di Timur Tengah, sering kali yang pulang bukan pahlawan, melainkan akuntan yang sibuk menghitung tagihan.
Tajuk rencana The New York Times pekan ini terdengar seperti bunyi palu hakim di ruang sidang: “President Trump Lost This War”.
Kalimat itu tidak ditulis aktivis anti-Amerika di sudut jalan. Ia lahir dari ruang redaksi koran paling berpengaruh di Amerika Serikat. Dewan Redaksinya menyimpulkan bahwa Donald Trump gagal memperoleh hampir semua barang yang dijanjikannya kepada rakyat Amerika sebelum perang dimulai.
Padahal etalase kampanyenya dulu begitu mewah. Ada “penyerahan tanpa syarat”. Ada “kemenangan total”. Ada “nol pengayaan uranium”. Ada pula diskon besar-besaran berupa pergantian rezim di Teheran.
Bahasa Trump memang sering seperti spanduk obral toko: semua tampak mudah, cepat, dan menguntungkan. Tinggal gesek kartu, masalah selesai.
Tetapi perang ternyata bukan marketplace. Barang yang dipajang di etalase belum tentu tersedia di gudang.








