Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Ada satu gejala yang selalu muncul ketika kekuasaan mulai merasa tidak nyaman terhadap kritik. Bukan menjawab kritik itu dengan argumentasi yang lebih kuat, melainkan membalikkan tuduhan kepada para pengkritiknya.
Tiba-tiba yang mengingatkan dianggap mengancam. Mempertanyakan dianggap merusak. Pengkritik dianggap pengkhianat.
Di titik itulah sebuah masyarakat sedang memasuki wilayah yang oleh para pemikir politik disebut sebagai inversi moral: keadaan ketika kategori benar dan salah, setia dan khianat, perlahan ditukar tempatnya.
Paling menarik dari situasi itu, pelaku pembalikan sering kali bukan orang-orang yang tidak mengerti. Mereka memahami persoalan dengan baik. Mereka tahu apa yang sedang terjadi. Namun mereka juga tahu bahwa mempertahankan kekuasaan lebih mudah dilakukan dengan mengubah persepsi publik daripada menjawab substansi kritik.
Karena itu yang diserang bukan argumennya. Melainkan orang yang menyampaikan argumen. Label pun mulai bertebaran: pengkhianat, provokator, anti-negara, dan seterusnya.
Semua istilah itu diproduksi bukan untuk menjelaskan kenyataan, melainkan untuk menggantikan kenyataan.
Fenomena ini beririsan dengan banyak mekanisme politik yang dikenal dalam ilmu sosial. Ada yang menyebutnya proyeksi, ketika seseorang melemparkan kepada orang lain cacat yang sebenarnya melekat pada dirinya sendiri. Ada yang menyebutnya gaslighting politik, ketika masyarakat dibuat ragu terhadap penilaiannya sendiri. Ada pula yang melihatnya sebagai politik stigmatisasi atau pembalikan tuduhan.









