Venezuela dan Retaknya Etika Global

oleh -167 views

Reaksi dunia justru memperdalam luka peradaban itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali tampak seperti institusi tanpa daya paksa. Resolusi dibicarakan, kecaman dilontarkan, tetapi tak satu pun menghentikan agresi. Ketika hukum internasional berhadapan dengan kekuatan militer negara adidaya, hukum dipaksa tahu diri. Peradaban pun menunduk.

Ironinya, agresi ini dilakukan oleh negara yang paling lantang berkhotbah tentang demokrasi dan hak asasi manusia. Retorika itu kini terdengar kosong.
Demokrasi dijunjung tinggi selama tidak mengganggu kepentingan strategis. Hak asasi dibela sepanjang pelanggarnya bukan sekutu sendiri. Standar ganda inilah yang membuat dunia kian sinis terhadap moralitas global yang diklaim universal.

Venezuela tidak bisa dibaca sebagai peristiwa tunggal. Ia adalah preseden. Dan dalam politik global, preseden jauh lebih berbahaya daripada ancaman. Apa yang dibiarkan terjadi sekali, akan lebih mudah diulangi.

Baca Juga  Hardiknas 2026 di Maluku Tenggara, Wabup Tekankan Pendidikan Fondasi Generasi Emas

Di Amerika Latin, kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Memang, spekulasi ini belum menyentuh Meksiko atau Kuba—negara dengan kompleksitas geopolitik yang membuat agresi terbuka jauh lebih berisiko.

Namun Kolombia, dengan sejarah panjang kedekatan militer dan keamanan dengan Washington, kerap disebut dalam analisis sebagai wilayah yang paling rentan terhadap eskalasi tekanan jika konstelasi politik domestiknya bergeser.

No More Posts Available.

No more pages to load.