Sejumlah pengguna internet bahkan mengklaim berhasil melacak lokasi akun hingga ke sekitar kantor polisi. Namun, klaim itu juga belum terverifikasi. Sebagian tangkapan layar yang beredar bisa saja merupakan rekayasa, hoaks, atau parodi yang sengaja dibuat untuk menyindir aparat maupun memperbesar kegaduhan di media sosial.
Ketidakpastian itulah yang turut mendorong popularitas slogan tersebut. Alih-alih berhenti pada upaya mencari tahu siapa yang berada di balik akun Snapchat, para pelajar mengubah frasa itu menjadi lelucon kolektif yang mudah dikenali dan disebarkan.
Dari Blokade Sekolah hingga Menyebar ke Belgia dan Italia
Gelombang protes pelajar yang menjadi latar kemunculan slogan tersebut dilaporkan bermula di Créteil, wilayah tenggara Paris, pada 18 September. Aksi kemudian meluas ke berbagai daerah di Prancis, didorong oleh keluhan mengenai jam sekolah yang panjang, ruang kelas yang terlalu padat, kondisi bangunan sekolah yang buruk, serta seringnya guru tidak hadir.
Persoalan itu dinilai sangat membebani siswa di kawasan pinggiran kota yang dihuni masyarakat kelas pekerja dan komunitas minoritas. Dalam perkembangannya, aksi blokade menjadi salah satu cara pelajar menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi pendidikan dan ketimpangan sosial.











