Pdt. Esrom Lakoruhut, Ketua Klasis GPM Pulau-Pulau Obi, menegaskan hal serupa. “Kami mendesak pemerintah pusat mencabut IUP PT Bela Sarana Permai dari Desa Wooi sesuai kewenangannya.”
Jejaring Bisnis dan Dugaan Konflik Kepentingan

Di balik penolakan warga, mencuat pula dugaan bahwa BSP terafiliasi dengan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos. Almarhum suaminya, Benny Laos, disebut sebagai pemegang saham mayoritas perusahaan ini.
Laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) pada 2025 memaparkan gurita bisnis keluarga Laos–Tjoanda melalui Bela Group (BG), yang menaungi BSP, PT Karya Wijaya (KW), PT Indonesia Mas Mulia (IMM), PT Bela Kencana (BK), dan PT Amazing Tabara (AT). Sherly sendiri tercatat sebagai direktur sekaligus pemegang 25,5% saham BG.
Sherly membantah ada konflik kepentingan. Dalam sebuah podcast 18 November 2025, ia menyebut seluruh kepemilikan merupakan “warisan keluarga” jauh sebelum menjabat gubernur.
“Benar saya punya saham hasil dari almarhum… tetapi apakah perizinannya didapat ketika saya menjadi gubernur? Tidak!” ujarnya.
Menurut Sherly, ketika menjadi pejabat publik ia tidak lagi menjadi pengurus perusahaan. “Saya tetap bisa menjadi pemegang saham tetapi saya tidak boleh menjadi pengurus. Jadi sebelum dilantik, saya keluar dari semua kepengurusan.”









