Yusnita, Srikandi Pulau Manipa: Ketika Pena Merajut Asa di Tanah Bertuah Seram

oleh -11 Dilihat

Bukan lagi seorang anak yang tersesat, melainkan seorang sarjana yang gagah, berdiri tegak dengan toga kebanggaan. Momen itu, baginya, adalah validasi paling mendalam dari profesinya. Sebuah bukti nyata bahwa di balik kerumitan berita, ada kekuatan transformatif yang bisa mengubah jalan hidup seseorang, merajut takdir baru yang lebih cerah.

Air mata yang tumpah saat itu bukan air mata kesedihan, melainkan tetesan kebahagiaan murni, sebuah kesaksian atas kekuatan empati dan keyakinan akan potensi manusia.

Dari Meliput Konflik, Hingga Menceritakan Keindahan

Kini, di Dinas Pariwisata, Yusnita tak merasa kehilangan jiwanya sebagai jurnalis. Justru, ia melihatnya sebagai lahan baru untuk meliput keindahan dan potensi yang sering luput dari perhatian.

Dengan naluri pencari berita, ia menggali cerita di balik setiap air terjun, setiap bentangan pantai tersembunyi, setiap senyuman penduduk lokal. Ia tak lagi mencari konflik untuk diberitakan, melainkan narasi keajaiban yang bisa menarik kunjungan wisatawan.

Baca Juga  Pakpok Putusan MK

“Jurnalisme mengajarkan saya bagaimana mengidentifikasi cerita yang layak diberitakan, yang bisa menarik perhatian,” ujarnya suatu kali, matanya berbinar.

“Prinsip itu saya terapkan di sini. Bagaimana kita ‘meliput’ keindahan Seram Bagian Barat ini, agar dunia tahu bahwa di sini ada permata yang menunggu untuk ditemukan?”

No More Posts Available.

No more pages to load.