Porostimur.com, Jakarta – Ada masa ketika Bahlil Lahadalia harus mengenal kehidupan bukan dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari jalanan.
Ia pernah berjualan. Pernah menjadi kondektur. Pernah pula mengemudikan angkutan kota.
Hari ini, lelaki kelahiran Banda, Maluku, 7 Agustus 1976, tidak lagi berada di belakang kemudi angkutan kota. Ia berada di tempat di mana keputusan-keputusan besar tentang energi, pertambangan dan sumber daya alam Indonesia dibicarakan.
Bahlil adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pada saat yang sama, ia memimpin Partai Golkar sebagai Ketua Umum periode 2024–2029.
Dua jabatan itu membuat namanya berada di dua lingkar kekuasaan yang berbeda, tetapi saling beririsan: pemerintahan dan politik.
Di situlah perjalanan Bahlil menjadi menarik.
Sebab kisahnya bukan hanya tentang seorang anak dari Indonesia Timur yang berhasil mencapai Jakarta. Ia juga merupakan cerita tentang bagaimana pengalaman organisasi, dunia usaha, jaringan kekuasaan dan politik membawa seorang lelaki dari pinggiran ke pusat pengambilan keputusan nasional.
Dan semakin tinggi posisi itu, semakin besar pula pertanyaan yang mengikutinya.
Anak Banda yang Ditempa Jalanan Papua
Bahlil lahir di Banda, Maluku, dari keluarga sederhana. Ayahnya tercatat bekerja sebagai buruh bangunan.









