10 Besar Lomba Cipta Puisi HUT Provinsi Maluku Ke-78

oleh -272 views

Seorang Penyiar Radio yang Membaca Sepotong Tragedi

    itulah mengapa kau ingin
    sekali menjadi seorang
    penyiar radio

    sebab ia dibekali sepotong
    mulut yang mahir mengolah
    beku kata-kata jadi oktaf

    molekul berbunyi itu
    terpental berkilometer bagai tualang
    melintasi jalanan

    dusun berkelak-kelok tubuh
    petani yang menunggu siaran
    drama radio

    seperti musim-musim panen raya
    begitu juga kita yang menanti

    hari ketika penyiar itu menjelma
    sepucuk pistol dan berat suara
    sebiji peluru mendesing:

    “i siha kei wasa, i rana tunu,
    hunane resita, rene rerau”
    napas hidup segala

    lalu tahuri memetik manik-
    manik mata kita hikayat
    sepotong tragedi

    manusia maluku dalam
    tiga babak: perampasan,
    kekerasan, dan

    pembunuhan sejak purba
    dan tidak diketahui

    Baca Juga  Hamas Ledakkan Tank Israel, Tentara Zionis Lari Bersembunyi

    siapa-siapa

    ingatkah kau pada kisah ini
    tanya penyiar malang itu
    di sela hela

    lepas napas, sementara aku
    sudah sehelai kabut memeluk
    bukit-bukit yang menyembunyikan
    raut mukamu

    seperti penyiar itu, sekali waktu
    kau berkata:

    nasib dan maut kita telah dipahat
    pada dadu ular tangga atau papan
    catur mainan masa kanak-kanak

    : sebuah dunia rautan ujung
    krayon dan saat bocah

    kita adalah penyihir ulung menyulap
    hitam kain jadi putih kupu-kupu

    cuma dengan sebuah kata ajaib
    “bim salabim abrakadabra”

    kekasihku, pada kadera kayu
    jati ini aku rebahkan riwayat
    hari kelam yang onak duri

    No More Posts Available.

    No more pages to load.