Seorang Penyiar Radio yang Membaca Sepotong Tragedi
itulah mengapa kau ingin
sekali menjadi seorang
penyiar radio
sebab ia dibekali sepotong
mulut yang mahir mengolah
beku kata-kata jadi oktaf
molekul berbunyi itu
terpental berkilometer bagai tualang
melintasi jalanan
dusun berkelak-kelok tubuh
petani yang menunggu siaran
drama radio
seperti musim-musim panen raya
begitu juga kita yang menanti
hari ketika penyiar itu menjelma
sepucuk pistol dan berat suara
sebiji peluru mendesing:
“i siha kei wasa, i rana tunu,
hunane resita, rene rerau”
napas hidup segala
lalu tahuri memetik manik-
manik mata kita hikayat
sepotong tragedi
manusia maluku dalam
tiga babak: perampasan,
kekerasan, dan
pembunuhan sejak purba
dan tidak diketahui
siapa-siapa
ingatkah kau pada kisah ini
tanya penyiar malang itu
di sela hela
lepas napas, sementara aku
sudah sehelai kabut memeluk
bukit-bukit yang menyembunyikan
raut mukamu
seperti penyiar itu, sekali waktu
kau berkata:
nasib dan maut kita telah dipahat
pada dadu ular tangga atau papan
catur mainan masa kanak-kanak
: sebuah dunia rautan ujung
krayon dan saat bocah
kita adalah penyihir ulung menyulap
hitam kain jadi putih kupu-kupu
cuma dengan sebuah kata ajaib
“bim salabim abrakadabra”
kekasihku, pada kadera kayu
jati ini aku rebahkan riwayat
hari kelam yang onak duri









