Menurut dia, kisah tersebut dapat menjadi pintu masuk yang menarik bagi anak-anak untuk mengenal kekayaan laut daerahnya sekaligus belajar bahasa dan sains.
“Melalui Silakata, kami ingin menjadikan kisah ini sebagai pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal kekayaan laut Sulawesi Utara, belajar bahasa dan sains, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.
Bonny mengatakan, Buku Saku Silakata dirancang untuk melatih rasa ingin tahu anak sejak dini sekaligus memperkenalkan pengetahuan mengenai ekologi lokal melalui kegiatan literasi ilmiah.
“Kami percaya bahwa rasa ingin tahu dapat dilatih sejak dini. Buku Saku Silakata menjadi jembatan antara literasi ilmiah tentang ekologi lokal dengan kemampuan membaca dan pemahaman anak terhadap lingkungan di sekitarnya,” katanya.
Dari pemahaman tersebut, kata Bonny, diharapkan tumbuh rasa bangga dan keingintahuan terhadap kekayaan lokal yang kemudian menjadi dasar untuk ikut menjaganya.
Bahasa dalam Silakata, lanjutnya, tidak hanya ditempatkan sebagai objek pelestarian, tetapi juga menjadi instrumen untuk membangun kesadaran konservasi.
“Silakata memosisikan bahasa sebagai objek pelestarian sekaligus instrumen konservasi. Melalui cerita tentang Coelacanth, anak tidak hanya belajar membaca dan mengenal bahasa, tetapi juga diajak mengenal kekayaan laut Sulawesi Utara dan memahami pentingnya menjaga lingkungan,” jelasnya.









