Pemahaman peserta terhadap teknik read aloud juga menunjukkan peningkatan setelah kegiatan.
Pemahaman mengenai pengertian read aloud meningkat dari 59,3 persen pada prates menjadi 96,6 persen pada postes. Sementara pemahaman mengenai manfaat membaca nyaring dalam meningkatkan minat baca anak meningkat dari 81,5 persen menjadi 100 persen.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa materi dan praktik langsung membantu peserta memahami metode membaca nyaring dengan lebih baik.
Peserta kemudian dibagi dalam beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari enam orang. Setiap kelompok didampingi fasilitator Duta Bahasa Sulawesi Utara untuk melakukan simulasi membaca nyaring.
Dalam praktik tersebut, peserta tidak hanya membaca buku, tetapi juga belajar mengajak anak berpikir melalui pertanyaan, tanggapan dan diskusi selama cerita berlangsung.
Dengan cara itu, membaca tidak lagi menjadi aktivitas satu arah, melainkan proses interaksi yang hidup dan bermakna.
Bagi orang tua, metode tersebut memberikan pengalaman baru dalam mendampingi anak membaca.
Wati Mamonto, salah seorang peserta, mengaku baru memahami bahwa kegiatan membaca bersama anak dapat dilakukan secara lebih interaktif dan tidak harus berlangsung dalam suasana formal.









