“Bandar antariksa ditetapkan akan dibangun di Biak. Alasannya, Biak paling dekat ke ekuator dengan lintang sekitar 1 derajat selatan. Kami bagi dua jenis karena alasan anggaran dan kompleksitasnya,” ungkapnya.
Dengan lahan yang dimiliki Lapan seluas 100 hektare dan terbatasnya anggaran, yang akan dibangun adalah bandar antariksa skala kecil. Bandar antariksa besar akan dibangun nantinya dengan mitra internasional.
Terkait berapa anggaran yang dibutuhkan, Thomas belum bisa menyebut secara pasti karena anggaran belum dihitung secara total dan sedang dikaji.
Ia menambahkan, pembangunan bandar antariksa di wilayah Indonesia merupakan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaaan untuk mewujudkan kemandirian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) penerbangan dan antariksa. Di antaranya adalah pengembangan teknologi roket, khususnya teknologi RPS yang dapat membawa wahana ke orbit.
Untuk pembangunan wahana ini, Thomas menjelaskan, pada tahun 2020 dimulai tahapan kajian dan perencanaan. Ditargetkan, pada 2024 tahap awal akan selesai untuk uji terbang roket bertingkat yang sekarang sedang dikembangkan.
“Bandar antariksa akan digunakan untuk uji terbang pengembangan roket dan operasional peluncuran satelit dengan wahana roket,” ucapnya.




