26 Tahun Reformasi: Robohnya Etika Bernegara

oleh -15 views

Oleh: Ubedilah Badrun, Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

KETIKA kami saat itu masih mahasiswa, berusia 20-an tahun, berada di jalanan, kami demontrasi dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dan dari bulan ke bulan.

Kami lakukan tak kenal lelah, hampir tak ada jeda. Keringat, air mata, dan darah kami tumpahkan.

Darah kami seringkali tumpah karena tiada hari tanpa represi aparat, gas air mata, tembakan peluru karet dan pentungan aparat adalah hari-hari yang kami alami.

Bahkan kemudian di antara kawan kami dari Universitas Trisakti ditembak mati dengan peluru tajam ketika demontrasi pada 12 Mei 1998.

Kami terus melawan hingga Soeharto kemudian menyerah menyatakan mundur pada 21 Mei 1998. Tepat hari ini 26 tahun lalu.

Baca Juga  Jelang Reforma Agraria Summit 2024, Menteri AHY: Kita Dorong Tanah Masyarakat yang Disertipikatkan Bisa Makin Produktif

Cita-cita besar Reformasi

Pertanyaanya, mengapa 26 tahun lalu kami begitu gigih dan gagah di jalanan terus berdemonstrasi meski ada kawan yang tertembak? Sebab saat itu kami memiliki mimpi, ada harapan besar, ada cita-cita besar tentang masa depan republik ini.

Saat itu kami menginginkan agar Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) diberantas. Kami juga menginginkan pemerintahan yang benar-benar demokratis, kekuasaannya dibatasi, otoritarianisme dan militerisme dihilangkan, ekonomi membaik, kesejahteraan rakyat meningkat.

No More Posts Available.

No more pages to load.