27 Juli

oleh -248 views

Tragedi demi tragedi itulah yang kita saksikan pada 27 Juli. Seorang aktivis membungkukkan diri di depan politisi yang dulu menculiknya. Dan itu tidak terlalu aneh dalam dunia politik kita.

Politisi yang dulu menjadi lawan sengit, memecah belah rakyat demi suara, kemudian saling rangkul setelah pemilihan selesai. Demi apa? Demi persatuan bangsa! Sesudah merusak, mereka berbaikan, dan tinggal rakyat yang menanggung pil pahit pertarungan mereka.

Melihat semua ini, saya tidak bisa tidak menengok pada sejarah Orde Baru. Sebuah klik di dalam tubuh militer berusaha untuk mati-matian mengamankan kekuasaan rejim — bahkan dengan menculik dan hingga saat ini korbannya tidak pernah ditemukan — saat ini mendapat dukungan luas dan sangat berpotensi menjadi presiden.

Baca Juga  DPRD Maluku Soroti Ketimpangan Mutu Revitalisasi Sekolah, Minta BPK Turun Audit

Uniknya dia menjadi calon presiden terkuat karena dukungan dari rival beratnya yang juga ingin mengamankan kekuasaannya lewat anak mantunya. Dan calon presiden yang terkuat sekarang ini bahkan tidak perlu melakukan apa-apa. Dia tidak berkampanye kemana-mana. Dia tidak bicara langsung dengan pers. Dia cukup berpose dengan kucingnya. Hanya dengan “rebahan” saja angka pollingnya membubung. Ya, rebahan seperti layaknya pandemi Covid tidak pernah usai untuknya.

No More Posts Available.

No more pages to load.