Lebih unik lagi, seperti pada jaman Suharto, dia pun akan mendapat kekuasaan “warisan.” Sehingga ketika diwawancara ia tidak pernah lupa memuji mantan rival sengitnya seakan mereka lahir dari rahim yang sama. Mungkin iya juga, rahim Orde Baru.
Dengan demikian, menurut hemat saya, berbeloknya mantan aktivis yang pernah diculik mendukung mantan penculiknya sebenarnya tidak ada signifikansinya. Begitu besar kekuatan pemecah belah pada pemilu 2019, dan kemudian berbalik sesudah pemilu selesai, itu lebih dahsyat. Sang aktivis hanya mengikuti pola ini.
Itulah politik pragmatis yang “liyak liyuk tanpa adeg-adeg” atau meliuk-liuk tanpa tulang belakang. Bukankah politik selalu demikian? Tidak juga. Liyak-liyuk tanpa adeg-adeg adalah semata-mata untuk berkuasa dan memperbesar kekuasaan. Di dalamnya tidak ada pendirian, prinsip, ideologi, atau pegangan.
Namun ada satu hal. Barangsiapa yang gampang meliyuk bahkan oleh tiupan angin semilir, akan tercabik-cabik ketika badai menerjang. (*)










