- Harus menjadi pemimpin
Ada anggapan bahwa jika laki-laki secara alamiah harus menjadi pemimpin dalam kondisi apapun. Namun, kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin dan gender, tetapi oleh kemampuan dan kualifikasi individu. Menganggap bahwa semua laki-laki harus menjadi pemimpin hanya akan mengabaikan potensi dan minatnya.
- Tidak boleh feminin
Mitos ini menciptakan batasan yang sempit terhadap minat dan hobi laki-laki. Sebenarnya, minat pada hal-hal feminin tidak menentukan maskulinitas seseorang. Laki-laki memiliki hak untuk mengeksplorasi minat mereka tanpa takut dijatuhkan atau dihakimi. Misalnya, selama ini yang boleh bermain boneka dilabelkan pada perempuan. Namun, sebenarnya laki-laki juga boleh.
- Pencari nafkah utama
Mitos ini memaksa laki-laki sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Bagaimana jika Ia memiliki keterbatasan fisik, dan sakit? Jadi kita perlu mengingat satu hal bahwa peran dalam keluarga idealnya didistribusikan secara adil berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan bersama.
Bukan memaksakan salah satu pihak menjadi penjaga atau pencari nafkah, karena sangat rentan menjadi tekanan psikologis bagi laki-laki. Pada prinsipnya setiap orang memiliki hak yang sama memperoleh pekerjaan dan penghasilan.
Itulah sederet mitos yang kerap dipercaya oleh sebagian kecil masyarakat yang diyakini kebenarannya. Padahal setiap orang, termasuk laki-laki juga memiliki hak yang sama sebagaimana manusia lainnya untuk mengeksresikan diri. Namun, karena masih ada mitos, justru laki-laki juga rentan menjadi korban. Oleh karena itu semua orang memiliki kewajiban menghormati keragaman dan menghargai hak-hak setiap individu.










