Langkah ini mengundang tudingan politik balas budi dan nepotisme, serta menimbulkan kecemburuan di kalangan ASN yang merasa tersingkir tanpa evaluasi objektif berbasis kinerja dan senioritas.
5. Gagal Menyentuh Akar Persoalan Pelayanan Dasar
Meski berjanji fokus pada pendidikan dan kesehatan, hingga kini belum terlihat dampak nyata dari program 100 hari kerja Sherly. Infrastruktur pendidikan dan fasilitas kesehatan di wilayah seperti Halmahera Timur, Pulau Taliabu, dan Kepulauan Sula tetap tertinggal.
Berbagai program besar seperti penghapusan pungutan sekolah dan MBG terhambat karena keterbatasan realisasi anggaran, belum optimalnya pendataan penerima manfaat, dan keterbatasan sarana distribusi logistik di wilayah kepulauan.
Penutup: Retorika Belum Sejalan dengan Reformasi Nyata
Dalam pidato-pidatonya, Sherly Tjoanda kerap menekankan pentingnya integritas dan perubahan birokrasi. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan dan praktik administrasinya masih jauh dari harapan reformis. Jika tidak segera melakukan koreksi kebijakan dan meningkatkan transparansi, kegagalan awal ini bisa menggerogoti legitimasi politiknya hingga akhir masa jabatan. (Tim)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News











