5. Kamu salah mengartikan chemistry dengan kecocokan

ilustrasi pasangan romantis (pexels.com/Anna Pou)
Nyatanya, jatuh cinta kepada potensi pasangan sering kali datang bersamaan dengan chemistry yang kuat. Padahal, belum tentu kamu benar-benar merasa cocok dengan sosok aslinya. Sebab untuk mengukur kecocokan, penting untuk melihat kompatibilitas nilai, gaya hidup, hingga kemampuan satu sama lain dalam melakukan resolusi konflik dengan baik.
Memang, terkadang chemistry bisa menciptakan sensasi yang menarik. Tapi, hubunganmu sulit berjalan dengan baik jika hanya diisi dengan percikan asmara, tanpa adanya fondasi yang kokoh.
6. Kamu hanya percaya sosok pasangan di kondisi terbaiknya

ilustrasi pasangan romantis (pexels.com/Ashford Marx)
Selanjutnya, kalau kamu terlalu terpaku dengan sosok pasangan di saat terbaiknya, misalkan saat ia sesekali membuatmu merasa bahagia karena kencan romantis, tapi mengabaikan sosoknya yang sering kali membuatmu nggak aman, itu berarti kamu hanya jatuh cinta pada potensinya saja.
Sebab, mencintai seseorang dengan realistis berarti kamu nggak perlu menunggu sensasi kapan dia akan mengajakmu kencan kembali, atau kapan sosoknya akan berubah menjadi lebih baik.
7. Tubuhmu berada dalam mode nggak aman terus-menerus

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)
Faktanya, saat kamu mencintai pasangan karena potensinya, tubuhmu tahu, lho, bahwa kamu nggak aman. Yup, mungkin tidurmu nggak nyenyak, otot tubuhmu sering kali terasa tegang, bahkan merasakan kegelisahan secara konstan.









