Jangan-jangan Prabowo adalah versi lain dari Jokowi. Memang ada beberapa hal yang terkesan Prabowo mulai melepaskan diri dari hantu Jokowi. Pertama, ia menolak upacara 17 Agustus dilaksanakan di IKN. Padahal, tahun lalu ia ikut Jokowi merayakan hari kemerdekaan RI di IKN. Kedua, ia menugaskan Wapres Gibran mengurusi Papua biar Gibran tak melakukan aktivitas sendiri yang bertujuan membangun citra diri dan pengaruh demi pilpres 2029.
Mengurusi Papua bukan hal yang mudah. Gibran dipastikan akan gagal sehingga ambisinya menjadi presiden, atau menjadi lawan Prabowo di pilpres mendatang, tidak akan membawa hasil. Ketiga, Prabowo memberi abolisi kepada Tom Lembong (musuh Jokowi) yang diperlakukan secara tidak adil. Bisa jadi tindakan Prabowo ini bertujuan menarik simpati publik.
Keempat, Prabowo memberi amesti kepada Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto yang merupakan musuh besar Jokowi sekaligus anak emas Megawati. Tindakan Prabowo ini merupakan tamparan keras terhadap Jokowi. Dus, Prabowo berhasil meraih dukungan Megawati meskipun PDI-P menolak bergabung ke dalam pemerintahan karena Prabowo belum berani menggusur menteri-menteri Jokowi.
Perubahan sikap yang tiba-tiba dari Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, mantan ketua Projo, yang menyatakan mendukung Prabowo sepenuhnya dan berniat masuk Partai Gerindra mungkin merupakan isyarat pengaruh Jokowi di pemerintahan mulai melemah atau ia tahu pengaruh Jokowi akan dilemahkan semakin jauh oleh Prabowo. Wallahu ‘alam.









