Karya: Kurnia Handika
Pagi yang cerah, burung-burung berkicau dengan riangnya di atas pohon yang tumbuh di pekarangan sebuah rumah.
Terdengar suara anak-anak bermain di pekarangan itu “Ayo tendang bolanya lebih keras” pinta Ramdan kepada Fernia. “Mana mungkin aku bisa menendang bola lebih keras lagi, aku kan perempuan” balas Fernia. “Argh.. tidak enak ya punya adik perempuan, tidak bisa diajak main bola” kata Ramdan jengkel. Fernia tersindir dengan perkataan kakaknya itu “Ya sudah kalau begitu, kakak main aja sendiri”. “Ya udah deh tendang bolanya sekuat kamu aja! gitu aja marah, kamu kan tau kalau kakak belum punya teman di sini” kata Ramdan sambil tersenyum supaya adiknya mau menemaninya bermain bola.
Ramdan, Fernia dan orangtuanya baru saja pindah rumah kemarin siang. Mereka pindah rumah karena Ayahnya dipindah tugaskan sebagai seorang polisi.
Kali ini Fernia menendang bola sangat keras. Bola itu melambung tinggi sampai Ramdan Tidak bisa menangkapnya. “Wah bolanya masuk ke pekarangan rumah sebelah Fer” Ramdan menunjuk ke pekarangan rumah sebelah. “Cepat kamu ambil bolanya Fer! nanti hilang”. “Loh kok aku yang disuruh ambil, kan kakak yang menyuruh tendang lebih keras” Fernia kesal melihat kelakuan kakaknya itu. “Kan kamu yang nendang, jadi kamu yang ambil” kata Ramdan sambil melotot.




