Oleh: Yusran Darmawan, blogger, peneliti, dan Digital Strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, jawa Barat.
Suara ombak dari Teluk Ambon menyatu dengan bunyi martil dari bengkel pandai besi di pesisir Lateri. Dari kejauhan, suara itu terdengar seperti tabuhan gamelan laut, irama logam dan ombak yang berpadu dalam ritme yang telah berlangsung turun-temurun.
Di bawah terik matahari yang menembus atap seng berkarat, seorang lelaki tua berdiri tegap di depan tungku sederhana. Tangannya cekatan memegang penjepit besi membara, memukulnya di atas landasan baja hingga menimbulkan percikan api kecil yang beterbangan ke udara.
“Dulu nenek moyang kami datang dari Binongko,” katanya tanpa berhenti menempa. Keringat menetes dari pelipisnya, bercampur jelaga dan debu besi. “Orang sini memanggil kami orang Buton.”
Ia tersenyum samar, seolah kalimat itu adalah doa yang sudah ia ucapkan ratusan kali. Di sudut bengkel, beberapa anak muda memperhatikan dengan saksama, belajar dari gerak tangannya, dari denting logam yang memahat kesabaran.
Pandai besi tua itu bukan sekadar pekerja, tapi pewaris tradisi yang pernah menjadikan Binongko dijuluki negeri pandai besi. Dari sinilah, dari panas tungku dan dingin ombak, identitas Buton ditempa dan disebarkan ke seantero Nusantara.








