Jejak Rindu di Samudera

oleh -1,055 views

Cerpen Karya: Eko Darmoko

Sebelum tiba di Mengwi, Marsh ditikam penasaran dan rindu pada awal pelayaran dari Louisiana. Mengwi adalah suaka antah berantah yang mengendap di kepalanya. Nama Mengwi baru didengar Marsh dari cerita ayahnya, beberapa hari belakangan, jelang keberangkatan USS Germantown. Sebelumnya, ayah Marsh hanya menyebut Badung sepintas lalu dan Bali secara umum-seperti pelajaran geografi.

Rambut hitamnya acak-acakan diembus angin pelabuhan. Sorot mata birunya menembus tajam ke bawah, menerawang misteri dasar samudera. Seragam angkatan laut berwarna biru membungkus tubuh jenjangnya. Sabuk hitam melingkari pinggulnya yang berisi dan sedap dipandang mata. Sebuah gelang perunggu pemberian ayahnya melingkar di tangan kanannya. Gelang itu tak pernah ia lepas semenjak ayahnya mengenakan untuknya.

Baca Juga  Inggris Singkirkan Norwegia Lewat Extra Time, Brace Bellingham Antar The Three Lions ke Semifinal

“Memakai gelang ini, aku seperti digandeng ibu,” kata Marsh sebelum ke pelabuhan.

“Rambut hitammu warisan dari ibumu. Mata birumu dari ayah,” balas ayahnya.

“Setelah tugas ini selesai, aku akan langsung ke Mengwi. Menemui ibu. Mengikuti alamat yang ayah berikan.” Marsh mengagumi selembar foto ibunya. “Cantik! Seperti perempuan Bali yang kulihat melalui televisi atau internet.”

Ayahnya tak bisa berkata-kata lebih. Ia memilih membisu demi mengurangi dan menghindari munculnya kerinduan dan kesedihan pada hati anaknya. Dengan berdiam diri, ia yakin Marsh tak akan banyak bertanya. Begitulah caranya menghadapi Marsh.

No More Posts Available.

No more pages to load.