921 Gempa Susulan Guncang Sulut–Malut, Daryono Ungkap Penyebabnya

oleh -8 Dilihat
Edukator kebencanaan dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), Daryono, menjelaskan bahwa tingginya aktivitas gempa di Laut Maluku dipicu kondisi tektonik yang sangat kompleks.

Porostimur.com, Ternate — Aktivitas gempa bumi di wilayah utara Pulau Sulawesi dan Maluku Utara belum sepenuhnya mereda. Hingga Minggu (5/4/2026) pukul 05.48 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 921 gempa susulan terjadi pascagempa utama bermagnitudo 7,6 pada Kamis (2/4/2026).

Rangkaian gempa susulan dengan kekuatan bervariasi, mulai dari magnitudo 1,7 hingga 5,8, masih terus mengguncang wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, setidaknya 22 gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat.

Getaran yang terus terjadi ini menimbulkan kecemasan, terutama bagi warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.

Ancaman Tsunami Masih Diwaspadai

Trauma akibat gelombang laut pascagempa masih membekas di sejumlah wilayah pesisir, seperti Halmahera Barat dan Bitung.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa tsunami kecil sempat terdeteksi setelah gempa utama terjadi.

Baca Juga  Anos Yeremias: Penghargaan Pendidikan Harus Jadi Momentum Perkuat Pemerataan di Maluku

“Tsunami setinggi 0,3 meter terpantau di Halmahera Barat, disusul 0,2 meter di Bitung. Meski kecil, tetap perlu diwaspadai,” ujarnya.

BNPB mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara untuk tetap menjauhi garis pantai dan tidak kembali ke area rawan sebelum ada pernyataan resmi bahwa kondisi telah aman.

No More Posts Available.

No more pages to load.