Orang Kuat dan Pilihan Palsu

oleh -9 views

Oleh: Rachlan Nashidik, Politisi

Dalam sejarah politik Indonesia, ada satu mitos yang berusia panjang: bahwa bangsa ini harus memilih kebebasan atau stabilitas, demokrasi atau kesejahteraan, hak-hak sipil atau negara yang kuat.

Mitos itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti nama.

Stephen Kotkin, dalam “The Weakness of the Strongmen” di Foreign Affairs edisi Januari-Februari 2026, memberi kita kacamata teoretik untuk membaca pola itu.

Dari lima ciri strongman menurut Kotkin, dua akan dibahas di sini: narasi negara kuat dan kontrol atas akses hidup warga. Keduanya sering ditautkan oleh penciptaan musuh bersama.

Narasi dan Kontrol

Menurut Kotkin, strongman tidak bertahan hanya karena mampu memukul. Ia juga bertahan karena mampu menguasai narasi.

Baca Juga  5 Hubungan Rumit yang Harus Kamu Hindari, Biar Nggak Sakit Hati

Setiap orang kuat dan proyek pemusatan kuasa selalu membutuhkan cerita tentang ancaman. Ancaman itu bisa datang dari luar: imperialisme, neokolonialisme, campur tangan asing, liberalisme Barat, krisis global. Ia juga bisa datang dari dalam: separatisme, radikalisme, intoleransi, hoaks, dan sebagainya.

Masalahnya bukan bahwa semua ancaman itu palsu. Negara memang wajib menjaga keamanan. Indonesia lahir dari penjajahan. Republik ini juga pernah menghadapi pemberontakan, konflik ideologi, separatisme, terorisme, kekerasan komunal, dan tekanan geopolitik.

No More Posts Available.

No more pages to load.