Oleh: Lukas Luwarso, Jurnalis Senior, Kolumnis
Pemerintahan Presiden Prabowo mirip manajemen perusahaan “startup”, punya budaya korporasi move fast and break things. Gesit mengganti atau memindah jabatan seseorang, atau membuat badan baru. Frekuensi reshuffle (resafel) Kabinet Merah Putih cukup fantastis—lima kali dalam satu setengah tahun terakhir. Artinya, setiap tiga bulan Prabowo melakukan resafel kabinet.
Kegemaran Prabowo meresafel, gonta-ganti personel, sepertinya mewarisi gaya Jokowi. Sepuluh tahun di era pemerintahan Jokowi sedikitnya terjadi 14 kali resafel. Era SBY dan Gus Dur, masing-masing lima kali. Era Soeharto, Habibie dan Megawati, resafel tidak pernah terjadi. Lima tahun di era Prabowo, sampai 2029, mungkin akan ada 17 Kali resafel–jika trend ganti menteri setiap tiga bulan terus berlaku.
Sayangnya kegesitan ala startup cuma sampai di situ: getol mengganti atau mengangkat pejabat baru. Alih-alih efisien dan kompeten, kabinet Prabowo tetap gemuk dan lamban. Prabowo mengelola negara besar berpenduduk 280 juta, namun gaya kabinetnya seperti perusahaan startup, atau kepanitiaan acara perayaan Acara 17-an. Susunan kepanitiaan lazimnya memang cepat dibentuk, mudah dirombak, dan dibubarkan.









