DPRD dan Pemda Haltim: Penonton atau Pelindung Rakyat?

oleh -13 views

Oleh: Nahrawi Hi. Taha, Jurnalis Porostimur.com

Gelombang kritik terhadap aktivitas pertambangan di Kabupaten Halmahera Timur kian membesar. Pencemaran sedimentasi di Teluk Buli, Kali Kukuba, hingga wilayah-wilayah lingkar tambang bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

Yang dipertaruhkan hari ini bukan hanya kualitas air dan tanah, melainkan masa depan sebuah daerah.

Ekologi yang Runtuh, Masa Depan yang Dipertaruhkan

Kerusakan yang terjadi memperlihatkan satu hal yang terang: tanah dan air sebagai sumber kehidupan perlahan dikorbankan oleh eksploitasi yang tak terkendali. Sedimentasi yang terus mengalir ke sungai dan pesisir membawa dampak berantai—merusak ekosistem, mengancam ruang hidup masyarakat adat, dan mematikan sumber ekonomi nelayan serta petani.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan mustahil dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, sebagian wilayah Halmahera Timur akan terkubur oleh lumpur sedimentasi—warisan pahit dari praktik tambang yang abai terhadap keberlanjutan.

Baca Juga  Dari “Jangan Jadi Antek Asing” ke Direktur Asing Holding Negara

Harapan bahwa investasi tambang akan membawa kesejahteraan kini mulai pudar. Yang tersisa justru jejak pencemaran, penggundulan hutan, serta konflik atas tanah adat. Di titik ini, publik mulai bertanya: untuk siapa sebenarnya kekayaan alam Halmahera Timur dikelola?

No More Posts Available.

No more pages to load.