Porostimur.com, Teheran – Iran mengklaim kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS) sebagai hasil dari tekanan yang tak lagi mampu ditahan Washington. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan menyebut kesepakatan itu lahir dari “belas kasih” para pejabat Teheran di tengah situasi perang yang memanas selama hampir empat bulan terakhir.
Upacara peresmian kesepakatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, Jumat (19/6/2026), sekaligus menandai dimulainya fase baru hubungan kedua negara yang selama ini berada di ambang konflik terbuka.
“AS Datang dengan Putus Asa”
Dalam pernyataan resminya, Mojtaba menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS tidak lahir dari posisi setara, melainkan dari kondisi terdesak yang dialami Washington.
“Bangsa Iran yang penuh semangat dan setia, seperti yang telah Anda ketahui, sebuah nota kesepahaman telah ditandatangani antara presiden Iran dan Amerika,” ujar Mojtaba dalam pesan yang dirilis, Kamis.
Ia menambahkan, proses menuju kesepakatan tersebut diwarnai berbagai upaya dari pihak Iran yang disebutnya didorong oleh niat baik.
“Dalam proses mencapai tahap ini, para pejabat, karena rasa belas kasihan dan niat baik, telah melakukan banyak upaya. Dan tentu saja Presiden AS-lah yang, karena putus asa, menggunakan berbagai pengaruh untuk tujuan ini,” tegasnya.









