Porostimur.com, Washington – Klaim kemenangan yang digaungkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas berakhirnya perang dengan Iran justru memantik perdebatan luas di kalangan analis global. Setelah hampir empat bulan konflik di Timur Tengah, pertanyaan mendasarnya kini bergeser: apakah perang itu benar-benar dimenangkan, dan oleh siapa?
Sejumlah pakar militer internasional menilai, jawaban atas pertanyaan tersebut jauh dari sederhana. Di satu sisi, Amerika Serikat mampu menunjukkan superioritas militernya. Namun di sisi lain, Iran justru dinilai berhasil bertahan secara strategis—sebuah faktor yang oleh banyak analis dianggap sebagai bentuk kemenangan tersendiri.
Tujuan Besar AS dan Realitas di Lapangan
Sejak bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran pada 28 Februari, Washington menetapkan sejumlah target ambisius. Selain melemahkan kekuatan militer konvensional Iran, Gedung Putih juga menargetkan penghapusan ancaman nuklir, perubahan rezim, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, hingga penghancuran kemampuan rudal balistik Teheran.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan hasil yang tidak sepenuhnya sejalan dengan target tersebut.
Amerika memang berhasil merusak sejumlah infrastruktur militer Iran dan melemahkan beberapa kapasitas strategisnya. Tetapi, tujuan-tujuan besar seperti perubahan rezim dan eliminasi total ancaman nuklir belum tercapai.









