Oleh: Julius R. Latumaerissa, Akademisi dan Pemerhati Maluku
Perdebatan atau diskusi tentang kemiskinan Maluku tak akan pernah habis, karena sudut kajian yang berbeda dengan argumentasi yang terbatas, sehingga melahirkan diskusi tanpa solusi kesepkatan
Maluku dikatakan miskin karena memang miskin, sebab kita selalu memeliahara kemiskinan itu sendiri, baik masyarakatnya maupun pemerintah-nya.
Dari aspek masyarakat, kita tidak pernah berupaya untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada saat ini dengan perkembangan yang begitu cepat. Kita semua masih bertahan dengan pola piker yang lama dan tidak mau berpikir out of the box. Kita selalu memelihara keterbelakangan kita sendiri, konstruksi berpikir serta orientasi kita selalu bertentangan dengan perubahan, dan kita terjebak dengan sejarah kejayaan masa lalu tanpa disadari itu hanya kenangan yang tidak akan kembali jika kita tidak merubah mindset kita
Akibatnya kita saling menuding antara pemerintah dan masyarakat, saling iri satu dengan yang lain, dan bermuara kepada pengembangan dan penyuburan isu-isu sempit dan kaku yang berpotensi menjauhkan kita semua dari rasa persatuan itu sendiri.
Kita selalu menipu diri kita dengan semangat kemaluku-an yang fatamorgana sifatnya. Kita selalu kembangkan persatuan dan kemalukuan dalam berbagai narasi, diksi yang tersusun rapi, bahkan diskusi dan retorika, namun tataran implementasinya kita saling curiga, saling gosok parang diantara kita sendiri.





