Ambon, Suatu Hari di Idul Fitri

oleh -15 Dilihat

Oleh: Ardiman Kelihu, Mahasiswa Pascasarjana UGM Yogyakarta

Mei belum usai dan hujan baru saja turun di Ambon. Takbir hingga Tahmid saling mengisi di pinggiran kota, di kampung-kampung muslim, seperti Nania, Waiheru, hingga Poka. Jalanan di Jembatan Merah Putih juga serentak basah. Sisi kiri kanan di Galala dan Teluk Ambon mulai berkabut. Lautnya sedikit beriak karena disepoi angin timur. Angkutan Kota (Angkot) jurusan Salobar yang kami tumpangi, mengambil rute Poka-Belakang Soya menuruni jembatan itu dengan cepat. Seolah menghindari hujan lokal yang tampak seperti mengejar. Angkot lalu berhenti di jembatan penyeberangan orang depan Maluku City Mall. Perjalanan kami lanjutkan dengan berganti ke angkutan jurusan Mardika-STAIN. Kali ini kami akan bersilaturahmi ke seorang kolega di Air Kuning.

Baca Juga  Kabut Asap Karhutla Landa Kepulauan Sula, Pemda Bagikan Masker Gratis dan Siagakan Puskesmas

Persis di seberang jalan kawasan Pandan Kasturi yang sudah kuyup, seorang ibu paruh baya bersama anak perempuannya menghentikan angkot yang kami tumpangi. Mereka tak mengenakan jilbab atau busana muslim seperti mayoritas penumpang lain di angkot. Keduanya adalah saudara Kristiani kami yang datang dari kampung-kampung Kristen di Kota Ambon untuk menjenguk keluarganya yang sedang merayakan iedul fitri di Air Kuning, daerah sekitar Kebun Cengkeh.