Porostimur.com | Ambon: Ketika mendengar nama Utada Hikaru pasti semua pendengar musik Asia dan Jepang selalu mengaitkannya dengan vokal yang menenangkan, rapuh, dan sensual dalam waktu bersamaan.
Dari jamannya lagu “First Love” sampai sekarang Utada selalu berhasil membawakan lagu pop dan R&B dengan sangat baik entah itu lagunya super pelan atau cepat sekalipun seolah-olah emosi dan curahan hati dari Utada tertuang di lagu tersebut (dan itu membuat jarak perilisan antar lagu darinya begitu lama untuk ukuran seorang superstar musik Jepang yang biasanya menuntut jarak perilisan lagu begitu cepat agar hype artis tersebut tidak hilang meskipun hasil akhirnya terasa aneh dan terlalu dibuat-buat).
Setelah ia merilis lagu “One Last Kiss” yang didaulat menjadi lagu penutup untuk film terakhir seri anime sensasional Rebuild of Evangelion: Evangelion 3.0+1.0 ia langsung merilis single terbarunya “Pink Blood” dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Jika “One Last Kiss” merupakan perpaduan sempurna antara cerita pahit manisnya sebuah cinta dengan unsur musik dancehall, electropop dan hyperpop racikan sang produser pentolan PC Music A.G. Cook yang sebelumnya menangani Charli XCX, Jonsi, dan Caroline Polachek kali ini Utada memainkan musik alternative R&B yang sensual lewat “Pink Blood”.









