Keruntuhan birokrasi dan ancaman teror
Sejak Taliban berkuasa, situasi keamanan tidak diragukan lagi telah meningkat. Tetapi serangan-serangan para teroris ISIS juga meningkat-terutama menargetkan kaum minoritas Syiah di negara itu dan juga anggota Taliban. Sementara perekonomian lumpuh, di saat negara ini menghadapi krisis kemanusiaan besar yang digambarkan oleh PBB sebagai “bencana kelaparan”.
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi Taliban adalah keruntuhan birokrasi. Lebih 120 ribu warga Afghanistan hengkang meninggalkan negara itu pada hari-hari terakhir penarikan pasukan AS yang kacau, kebanyakan warga yang hengkang adalah para administrator berpengalaman, yang telah lama bekerja dengan militer dan organisasi asing untuk mengelola administrasi dan perekonomian yang bergantung pada bantuan luar negeri.
Sekarang, pegawai negeri yang sudah berbulan-bulan belum mendapat gaji. “Saya pergi ke kantor di pagi hari, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan,” kata Hazrullah, seorang teknokrat tingkat menengah di kementerian luar negeri. “Sebelumnya, saya mengerjakan kesepakatan perdagangan dengan negara-negara tetangga kami. Sekarang kami tidak memiliki instruksi tentang bagaimana melanjutkannya. Tidak ada yang tahu apa-apa.”
Terutama perempuan menghadapi tekanan dan pembatasan
Hingga saat ini, secara resmi tidak ada undang-undang atau fatwa bahwa perempuan harus kembali mengenakan burqa penutup wajah, atau harus didampingi oleh anggota keluarga laki-laki ketika meninggalkan rumah. Namun perempuan yang tidak melakukannya sering mendapat tekanan dan peringatan dari anggota Taliban.




