Pemisahan ini, meski tidak bersifat formal atau legal, mengakar dalam pola pikir masyarakat dan didukung oleh infrastruktur sosial yang terfragmentasi. Layanan publik, rumah ibadah, bahkan pasar tradisional cenderung melayani komunitas yang homogen secara agama.
Ketika jarak sosial tumbuh, kepercayaan antarkelompok cenderung menurun — menciptakan kondisi yang rawan untuk gesekan di masa depan.
Bahaya yang Mengintai
Segregasi semacam ini bukan hanya masalah identitas, tapi juga membuka ruang bagi eksklusivisme dan radikalisasi. “Kita membangun dinding-dinding tak terlihat. Ketika krisis atau provokasi datang, dinding ini bisa menjadi pemicu ledakan sosial,” jelas Dr. Yustinus.
Potensi konflik laten bisa dipicu oleh berbagai hal: isu nasional yang ditarik ke konteks lokal, peristiwa intoleransi di tempat lain, atau perebutan sumber daya yang terbaca sebagai diskriminasi berdasarkan identitas.
Lebih dari itu, generasi muda yang tidak pernah mengalami konflik 1999 secara langsung, kini tumbuh dengan warisan segregasi yang tidak mereka pahami akar sejarahnya. Ketika tidak ada narasi bersama yang dibangun, prasangka bisa diwariskan dalam diam.
Belajar dari Luar Negeri: Kasus Serupa
Fenomena segregasi berbasis identitas bukan hal baru di dunia. Beberapa kasus serupa memberikan gambaran akan bahaya jika segregasi dibiarkan tanpa upaya dekonstruksi:











